Donate Today! Click Here!

Dapur Pun Jadi Tempat Diskusi

PDF
Cetak
E-mail
Sabtu, 20 Juni 2009 03:03

Aida MuslimahAKU sudah mencoba menulis. Tapi setiap kali mendapat satu alinea, kuhapus lagi. Sebab, setelah aku baca, rasanya kurang puas. Kuulang lagi, hasilnya seperti itu lagi. Mana dikejar deadline, duh susah banget deh".

Demikian tutur Bendahara Yayasan Suaka Ananda BPos, Aida Muslimah ketika mengisahkan pengalamannya menulis cerita tentang diri dan keluarganya. Perlu waktu lama untuk menghasilkan tulisan yang sebenarnya tak begitu panjang.

"Maklum, nggak terbiasa nulis. Dulu waktu sekolah, nilai mengarangnya juga nggak bagus-bagus amat. Tapi Alhamdulillah, semuanya selesai," kata istri Wagub Kalsel, Rosehan NB ini.

Selama dalam proses menuangkan cerita dalam tulisan, Aida sibuk mencari kritikus. Tak jauh-jauh, dia meminta teman dekat dan keluarganya untuk membaca isi tulisan. Bahkan, tak segan-segan, dia meminta pekerja rumah tangganya membaca tulisannya di dapur. "Bagus saja ini Bu, kan semua sesuai kenyataan," kata Aida menirukan komentar pekerja rumah tangganya itu.

Haura dan Alya, dua buah hatinya pun turut memberikan komentarnya. Terutama pemilihan foto yang akan ditayangkan di buku.

Kesulitan yang sama, dialami Budi Kristanto. Pendiri yayasan ini berkali-kali mencoba menulis. Tapi katanya, selalu muncul kata dan kalimat yang sama. Solusi pun muncul. Budi belajar menulis tentang perjalanannya membantu sesama kepada wartawan Banjarmasin Post, Edward Pah. Akhirnya, Budi pun tak melewatkan partisipasi menulis di buku kumpulan cerita pengalaman para pengurus Yayasan Suaka Ananda BPos.

Nada kesulitan menulis, juga dilontarkan sang penggagas ide penulisan buku, Robensjah Sjachran. Pendiri yayasan ini mampu merampungkan tulisannya yang indah itu menjelang deadline.

Berbeda dengan pendiri lainnya, Wahyu Indriyanta. Dengan berkelakar, Wahyu mengatakan, menulis cerita itu anggap saja seperti menulis surat cinta pada masa pacaran. Bisa berlembar-lembar dalam sekejap.

Pemimpin Perusahaan Banjarmasin Post ini memang bersemangat sekali menulis. Tema yang dia pilih pun pengalaman ketika dokter memvonisnya mengidap kanker. Dia mengatakan, itu merupakan pengalaman yang tak akan pernah dilupakan.

Direktur Utama BPD Kalsel, Juni Rif’at pun tak mau kalah. Dia menuliskan segala kegelisahan dan kekaguman terhadap anak-anaknya. Juni bersyukur, memiliki Ade dan Ayu yang mampu menjadi penyemangat hidupnya.

Sedang Sukendy Johan yang dikenal sebagai pengusaha, ternyata menurut pengurus yayasan lainnya, tak hanya mahir mengutak-atik kalkulator menghitung keuntungan, tapi jago dalam menulis. (rbt)

Isi Komentar

Show/Hide Comment form