Donate Today! Click Here!

Berguru kepada Anak-anak Lucu Itu

PDF
Cetak
E-mail
Sabtu, 20 Juni 2009 02:07

 Anak adalah guru terbaik. Kepada merekalah kita belajar menjadi orangtua. Dari mereka pula kita memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru makna kejujuran, kepolosan, keterbukaan, dan kecepatan menyelesaikan konflik. Seringkali kita merasa lebih tahu tentang apa yang terbaik untuk mereka, padahal sejatinya kita tidak tahu apa-apa. Karena, mereka lebih tahu apa yang terbaik bagi dirinya.

ITULAH kalimat yang digoreskan Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post di sampul buku Tersenyumlah Nak (Sebuah Kisah Cinta) yang memuat kisah, pengalaman dan perhatian para pengurus Yayasan Suaka Ananda BPos kepada anak-anaknya.

Buku ini lahir dari gagasan salah satu pendiri Yayasan Suaka Ananda BPos, Robensjah Sjachran. Notaris kondang ini menantang pengusaha sukses, Sukendy Johan, istri Wagub Kalsel, Ny Aida Muslimah Rosehan NB, anggota DPRD Kalsel, Karlie Hanafi, Pemimpin Perusahaan Banjarmasin Post, Wahyu Indriyanta, Dirut BPD Kalsel, Juni Rif’at dan pengurus yayasan lainnya untuk menulis kisah dan pengalaman tentang anak.

Hasilnya, sungguh luar biasa. Terkumpul 17 tulisan yang apik, inspiratif, mendidik dan penuh kelucuan, kepolosan namun memiliki makna dalam. Simak saja tulisan Juni Rif’at yang betapa kehadiran dua buah hatinya, Ade dan Ayu mampu membangkitkan gairah hidupnya. Mampu menjadi api penyemangat hidupnya.

Kita juga bisa belajar dari kisah yang ditulis dokter spesialis kandungan, Pribakti. Dengan lugas, dokter yang memang hobi menulis ini mengisahkan email dari seorang koleganya.

Di dalam email itu diceritakan, anak koleganya yang mengikuti sebuah lomba mendapatkan hasil yang hebat. Atau dengan kata lain, dialah juaranya. Namun juri menghendaki orang lain yang juara.

Sang orangtua protes. Ibu si anak menangis. Namun justru si anak dengan polosnya meminta kepada ayah dan ibunya bersabar. Si anak bilang, biarlah orang lain yang menjadi juara, toh sudah ikut meramaikan lomba.

Lain lagi pengalaman Yuni Barito, wartawan BPost 2000-2005 yang merasakan ‘tamparan-tamparan’ dari dua buah hatinya. Dengan gaya yang ringan, Yuni menuturkan kisah anak-anaknya yang pulang membawa makanan ringan dari warung tetangga.

Yuni terbelalak kaget ketika si anak mengaku ngutang, seperti apa yang biasa dilakukannya ketika ada keperluan mendadak. Sejak saat itu, Yuni tak pernah lagi ngutang ke warung tetangga dan berpesan kepada acil warung, jangan memberi apa-apa kecuali si anak membawwa duit.

Sementara Wahyu Indriyanta memilih menuturkan pengalamannya menjalani perawatan di Singapura. Tanpa diduga, dia mendapatkan banyak pertolongan, sekalipun orang yang menolongnya itu tak dikenal sebelumnya.

Wahyu pun menyimpulkan, menolong itu sama nikmatnya dengan ditolong. Orang yang ditolong, suatu ketika pasti akan menolong. Sungguh indah, hidup dalam tolong menolong.

Untuk memperkaya wawasan, di dalam buku ini juga disertakan tulisan tentang hak dan perlindungan anak yang dikemas ringan oleh anggota DPRD Kalsel, Karlie Hanafi dan dosen Fakultas Hukum Unlam, Syaifuddin. (rbt)

Isi Komentar

Show/Hide Comment form